04 Mei 2009

Askep Ca Uteri


A. Konsep Dasar Medis.
1. Defenisi.
Carsinoma ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histiogenesis yang beranekaragam, dapat berasal dari ketiga dermoblast (ektodermal, entodermal dan mesodermal) dengan sifat-sifat histologis maupun bilogis yang beraneka ragam (Prof. Dr. Sarwono Prawiroharjo, 1994), hal. 400).
Carsinoma ovarium adalah tumur ganas yang menyerang ovarium. (David Ovedoff, 2002, hal. 619).
Carsinoma pada ovarium merupakan kumpulan tumor dengan histigenesis yang beranekaragam. Tumor ditemukan sebanyak 8,0 %dari tumor ganas ginekologik, dan 60 % terdapat pada usia ± 50 tahun. 30 % pada masa reproduksi, dan 10 % apda usia yang lebih muda 15 % dari semua carsinoma ovarium itu ganas (Prof. Dr. Sarwono Prawiroharjo, 1987, hal. 333).

2. Anatomi Fisologi.
Sistim reproduksi wanita terdiri atas struktur eksternal dan internal :
a. Genitalia Eksternal
Genetalia eksternal (vulva) mencakup dua lipatan jaringan tebal yang disebut labia mayora dan dua bibir yang lebih kecil yaitu labia minora. Bagian atas dari labia minoris bersatu membentuk penutup persial dari klitoris yaitu organ sangat sensitif yang terdiri dari jaringan erektil. Antara labia minoria di bawah dan sebelah posterior klitoris terdapat meatus urinarius, yang merupakan ostium eksternal uretra wanita dengan panjang sekitar 3 cm. Di bawah orifisium ini terdapat ostium yang labih besar; yaitu orifisium vagina. Pada setiap sisi orifisium terdapat kelenjar vestibular (bartholin’s) suatu struktur sebesar biji kacang yang yang mengalirkan sekresi mukusnya melalui duktus kecil. Ostium duktus terletak di dalam labia monira, di sebelah eksternal hymen. Jaringan antara genitialia eksternal dan anus adalah forset dan semua jaringan yang membentuk genetalia aksternal wanita disebut perineum.
b. Genetalia Internal
Vagina merupakan suatu kanal yang dilapisi oleh membran mukosa dan terbentang dari depan ke belakang, dari vulva ke servik sepanjang 7,5 – 10 cm di sebelah anterior vegina adalah kandung kemih dan uretra dan di sebelah posterior vagina terletak rektum. Dinding anterior dan posterior vagina normalnya bersentuhan satu sama lain. bagian atas vagina, forniks, mengelilingi serviks (leher sempit dari uterus).
Uterus merupakan organ muskukal berbentuk buah pir, mempunyai panjang 7,5 cm dan lebar 5 cm pada bagian atasnya. Uterus mempunyai 2 bagian : serviks yang menonjol ke dalam vagina dan bagian atas yang besar yaitu fundus atau korpus. Uterus dipertahankan posisinya dalam rongga pelvis oleh beberapa ligamen yaitu :
1). Ligamen teres terbentang secara anterior dan lateral disepanjang cicin internal inguinal dan turun disepanjang kanalis inguinalis, tempat mereka bergabung dengan jaringan labia mayora.
2). Ligamen latum adalah lipatan perineum yang memanjang dari dinding pelvis lateral dan membungkus tuba fallopii.
3). Ligamen uterosakral memanjang secara posterior sampai ke sakrum.
Ovarium terletak dibelakang ligamen latum, di belakang dan bawah tuba fallopii. Ovarium adalah benda oval yang mempunyai panjang 3 cm pada saat lahir ovarium mengandung ratusan sel-sel telur yang sangat kacil. Ovarium memiliki 2 fungsi utama yaitu : fungsi proliferatif (generatif) yaitu sebagai sumber ovum selama masa reproduksi dan fungsi sekretonik (vegetatif) yaitu tempat pembentukan dan pengeluaran hormon steroid (asterogen, progresteron, androgen).

3. Etiologi.
Penyebab dari tumor ovarium masih belum diketahui pasti. Faktor resiko yang dapat menimbulkan tumor ovarium ini adalah berikut :
a. Riwayat keluarga dengan kanker ovarium.
b. Merokok / alkohol.
c. Diet tinggi lemak / obesitas.
d. Penggunaan bedak talk perineal.
e. Riwayat kanker payudara, kolon, atau endometrium.
f. Nulipara, infertilitas.
g. Umur lebih dari 40 tahun.

4. Patofisiologi.
Carsinoma ovarium dibagi ke dalam 3 kategori besar tumor epitel, tumor stroma, tumor sel benih kanker ovarium dapat bermetastasis dengan invasi langsung ke struktur. Struktur yang berdekatan pada abdomen dan panggul dan melalaui penyebaran benih tumor melalui cairan poritoneal ke rongga abdomen dan rongga panggul; orites dapat terjadi dan cairan yang mengandung sel-sel ganas melalui saluran limfe menuju fleura dan akhirnya menyebabkan efusi pleura.
Kebanyakan kanker ovarium adalah dari tumor epitel kanker ovarium cenderung untuk tumbuh dan menyebar perlahan-lahan (tanpa tanda dan gejala) sampai akhirnya menekan organ-organ yang berbatasan atau distensi abdomen. Kanker dapat menginvasi permukaan bawah omentum, hati dan organ lain. Rute penyebaran melalui limfe, aliran darah dan peritoneal. Pada kanker ovari dapat terjadi distensi abdomen, sering berkemih, pleura efusion, mal nutrisi, nyeri karena tekanan yang disebabkan oleh pertumbuhan tumor dan dapat menyababkan obstruksi saluran urine, konstipasi, asites dengan sesak.
5. Manifestasi Klinis
Pada manifestasi merupakan suatu gejala yang samar dan tidak semua pada penderita :
a. Haid tak teratur, menoragia.
b. Nyeri tekan pada payudara.
c. Menopause dini.
d. Rasa tidak nyuman pada abdomen; nyeri.
e. Tekanan pada pelvis, sering berkemih.
f. Distensi abdomen.

6. Pemeriksaan Diagnostik.
a. Laparoskopi
Pemeriksaan ini sangat berguna untuk mengetahui apakah sebuah tumor berasal dari ovarium atau tidak, serta dapat menentukan sifat tumor tersebut.
b. USG
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan letak dan batas tumor, apakah tumor berasal dari uterus, ovarium atau kandung kemih, dan dapat pula dibedakan antara cairan rongga perut yang bebas atau tidak.
c. Rontgen
Untuk menentukan adanya masalah paru.
d. Pembedahan/biopsi
Untuk mengatahui secara pasti jenis tumor.
e. Pemeriklsaan laboratorium
Pemeriksaan Hct untuk pengkajian adanya komplikasi perdarahan, anemia atau infeksi.




7. Terapi dan Pengelolaan Medis.
a. Pembedahan
Dilakukan laparatomi, histerektomi atau adneksektomi unilateral atau bilateral.
b. Kemoterapi
Sisplatin digunakan dengan sering dalam pengobatan kemoterapi tumor ovarioum baik sendiri maupun kombinasi dengan preparat lain. efek merugikan biasanya sama untuk semua kemoterapi, walaupun beberapa agen dapat menyebabkan komplikasi yang unik antara lain:
1). Doksorubisin Hcl (Adriamycin) dan daunorubisin (Serubidine) mungkin kardio toksik.
2). Bleomisin dapat menyebabkan toksisitas pulmonal.
3). Metotreksat (antagonis folat) mungkin mematikan dan toksik untuk hati.
4). Sisplatin (platinol) mungkin nefrotoksik dan ototoksik. Pengeluaran urin dari ginjal dipertahankan 250 ml/jam sebelum dan selama terapi untuk mencegah kerusakan ginjal dengan menggunakan IV terapi dan diuretik.
5). Vinkristine sulfat (omcovin) mungkin neurotosik.
6). Siklofosfamid ( cytocan) dapat menyebabkan sistitis hemoragis.
c. Radiasi
Terapi radiasi merupakan penanganan tambahan setelah pembedahan.

8. Kompikasi
a. Anemia disebabkan oleh sifat fagosit sel tumor atau adanya perdarahan.
b. Obstruksi khusus disebabkan pembesaran sel-sel tumor yang dapat menekan usus.
c. Depresi sum-sum tulang disebabkan faktor penghasil sel darah merah dari sum-sum tulang sebagai sistem imun. Sel darah merah berusaha untuk menghancurkan sel-sel tumor sehingga kerja sel-sel tumor optimal.
d. Perdarahan disebabkan pembesaran tumor pada ovarium yang dapat menyebabkan ruptur.

B. Konsep Keperawatan.
Ilmu keperawatan didasarkan pada suatu teori yang sangat luas. Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktek keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving dan memerlukan ilmu; tehnik, dan keterampilan, interpersonal yang ditujakan untuk memenuhi kebutuhan klien dan keluarga. Proses keperawatan terdiri dari 5 tahap yaitu : pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi, evaluasi. (Iyer et al, 1996).

1. Pengkajian.
Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang sitematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan mengidentifikasi kesehatan klien. (Iyer et al, 1996). Adapun hal-hal yang perlu dikaji dalam kasusu ini yaitu:
a. Identitas klien
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, jumlah anak, alamat tempat tinggal.
b. Riwayat kesehatan klien
1). Kesehatan masa lalu
Kaji siklus menstruasi, riwayat penyakit yang pernah diderita disamping itu dengan pengalaman operasi yang pernah dialami atau riwayat cedera yang pernah dialami.
2). Riwayat kesehatan sekarang
Kaji mengenai perkembangan penyakit dari tanda dan gejala pertama sampai sekarang termasuk upaya mencari pertolongan.
c. Riwayat kesehatan keluarga
Kaji mengenai kesehatan keluarga apakah ada diantara keluarga klien yang pernah mengalami penyakit yang sama dengan klien
d. Struktur keluarga / genogram
Kaji mengenai jumlah klien, anak klien, jumlah keluarga yang tinggal serumah.
e. Data bilogis
1). Pola nutrisi
Kaji mengenai intoleransi makanan berat badan menurun, anoriksia, jenis-jenis makanan.
2). Pola minum
Tanyakan mengenai banyaknya minum per hari, jenis minuman.
3). Pola eliminasi
a). Eliminasi Urin
Kaji dengan pelancaran saat BAK, hematuria, sering berkemih, frekuansi BAK.
b). Eliminasi peses
Kaji tentang konstipasi saat BAB, nyeri pada defekasi, karakteristik feses.
c). Pola tidur dan istirahat
Kaji mengenai masalah gangguan tidur/istirahat, kebiasaan sebelum tidur, faktor yang mempengaruhi tidur.
d). Pola kebersihan
Kaji kebersihan klien, upaya-upaya apa yang dilakukan untuk memelihara kebersihan, mandi berapa kali per hari.
e). Pola aktivitas
Kaji kemampuan beraktivitas baik sebelum sakit atau pun keadaan sekarang dan juga penggunaan alat bantu seperti : tongkat, kursi roda atau lainnya, jenis pekerjaan/ profesi.


f. Pemeriksaan fisik
Kaji mengenai keadaan umum, tingkat kesadaran, tanda-tanda vital, kepala, leher dan aksila, mata, telinga, hidung, mulut, faring, dada; rongga torak, paru-paru, jantung, payudara, abdomen, punggung, genitalia dan rektum, ekstremitas atas bawah, sistem integumen.
g. Data fsikologis
1). Status emosi
Kaji tingkat emosi klien, ketenangan, kegelisahan.
2). Konsep diri
Kaji pandangan klien terhadap dirinya sendiri, pengalaman terhadap prustasi, dan ungkapan klien selama keadaan saat ini.
3). Gaya komunikasi
Perhatikan komunikasi klien terutama pada waktu wawancara, dan gaya komunikasi klien.
4). Pola interaksi
Kaji hubungan klien dengan keluarganya.
5). Pola koping
Kaji tempat klein bertukar pendapat, kaji terhadap penyesuaian diri, ungkapan penyangkalan/penolakan diri sendiri dan terhadap penyakit.
h. Data sosial
1). Pendidikan dan pekerjaan
Kaji status klien, tamatan sekolah, pekerjaan, berapa jam kerja per hari.
2). Hubungan sosial
Kaji hubungan sosial klien terutama terhadap orang-orang terdekat klien (keluarga).
3). Faktor sosio kultural.
Kaji tentang adat istiadat klien, suku, pantangan makan.

i. Data spiritual
Kaji tentang agama/kepercayaan klien, apakah sering pergi ke gereja (selama sakit/sebelum sakit), apakah sering berdoa.
j. Data penunjang (laboratorium, radiologi)
Tes seleksi tergantung riwayat, menisfestasi klinis, dan indeks kecurigaan untuk kanker tertentu. Biopsi (eksisi, jarum, melubangi) dilakukan untuk mendiagnosis banding dan menggambarkan pengobatan dan dapat melakukan melalui sum-sum tulang, organ-organ lain. Tes kimia skrining: elektrolit (natrium, kalium, kalsium); tes ginjal (BUN/Cr); tes hepar (billirubin, AST/SGOT alkalin pospat, LDH).
k. Pengobatan
Kaji tentang obat yang didapat klien, dosis, efek samping, indikasi.

2. Diangnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dari individu atau kelompok dimana perawat akontabilitas dapat memberi intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi dan mencegah dan merubah (Carpenito, 2000).
a. Ansietas b/d ancaman kematian yang ditandai dengan peningkatan ketegangan, gemetar, ketakutan dan gelisah.
b. Harga diri rendah b/d perubahan penampilan tubuh sekunder terhadap efek kemoterapi ditandai dengan pernyataan rasa malu dan alopesia.
c. Nyeri b/d proses penyakit yang ditandai dengan adanya keluhan nyeri dan gelisah.
d. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake yang kurang akibat anoreksia dan mual muntah sekunder terhadap efek kemoterapi ditandai dengan penurunan berat badan.
e. Resiko tinggi infeksi b/d kurang sistim imun tubuh akibat kemoterapi.
f. Resiko tinggi konstipasi b/d masukan diet yang kurang akibat mual muntah sekunder terhadap efek kemoterapi.
g. Resiko tinggi terjadi efek samping serius b/d efek toksik kemoterapi.
h. Kurang pengetahuan b/d kurang informasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar