
A. KONSEP DASAR MEDIS
1. Anatomi fisiologi
Struktur reproduksi laki-laki terdiri dari penis, testis dalam kantong skrotum, sistem duktus yang terdiri dari epididimis, vas deferens, duktus ejakulatorius dan uretra, glandula asesoria yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar bulbouretralis.
Testis bagian dalam terbagi atas lobus yang terdiri dari tubulus seminiferus, sel-sel sertoli dansel-sel leydig. Produksi sperma atau spermatogenesis terjadi pada tubulus seminiferus. Sel-sel leydig mensekresi testosteron. Pada bagian posterior tiap-tiap testis, terdapat duktus melingkar yang disebut epididimis. Bagian kepalanya berhubungan dengan duktus seminiferus (duktus untuk aliran keluar) dari testis, dan bagian ekornya terus melanjut kebagian vas deferens. Vas deferens adalah duktus sekretorius testis yang membentang hingga duktus vesikula seminalis, kemudian bergabung membentuk duktus ejakulatorius. Duktus ejakulatorius selanjutnya bergabung dengan uretra, yang merupakan saluran keluar bersama, baik untuk sperma maupun kemih. Kelenjar asesorius juga mempunyai hubungan dengan sistem duktus. Prostat mengelilingi leher kandung kemih dan uretra bagian atas. Saluran-saluran (kelenjar cowper) terletak dekat meatus uretra. Penis terdiri dari 3 massa jaringan erektil berbentuk silinder memanjang yang memberi bentuk pada penis. Lapisan dalamnya adalah korpus kavernosum. Ujung distal penis dikenal sebagai glans, ditutupi oleh prepusium (klup). Prepusim dapat dilepas dengan pembedahan (sirkumsisi / sunat). (Sylvia A Price, hal 1320, 2006)
2. Definisi
a. Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan. Tanda klinis BPH biasanya muncul pada lebih dari 50 % laki-laki yang berusia 50 tahun ke atas (Sylvia A. Priece, hal 1320, 2006).
b. Hiperplasia prostat benigna (BPH) adalah pembesaran, atau hipertrofi prostate. Kelenjar prostate membesar, memanjang ke arah depan, ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin ; dapat mengakibatkan hidronefrosis dan hidroureter. Penyebabnya tidak pasti, tetapi bukti-bukti menunjukkan adanya keterlibatan hormonal. BPH adalah kondisi umum terjadi pada pria di atas usia 50 tahun (Brunner dan Suddarth, hal 467, 2000).
c. Benigna Prostat Hiperplasia adalah pembesaran kelenjar prostat dengan bermacam manifestasi seperti susah buang air kecil, penurunan kemampuan pengosongan urin, terendah, buang air kecil, hanya menetes, yang ditemukan pada laki-laki dengan usia lebihdari 50 tahun (Black, Hawks, Keene hal 946, 2001).
d. Hiperplasia adalah pembentukan jaringan yang berlebihan karena bertambahnya jumlah sel (Ahmad A.K., 2003).
e. Hiperplasia prostat benigna adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostate (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius (Marilynn E. Doenges hal 671, 2000).
f. Prostat adalah kelenjar penghasil semen yang mengelilingi leher kandung kemih dan uretra pada laki-laki (Wim de Jong, hal 1059, 1997).
3. Etiologi
a. Faktor usia
b. Perubahan hormon
c. Genetik/kromosom keturunan (Wim De Jong,1997)
4. Patofisiologi
Biasanya ditemukan tanda dan gejala obstruksi dan iritasi. Gejala dan tanda obstruksi jalan kemih berarti penderita harus menunggu pada permulaan miksi, miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi lemah dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersensivitas otot detrusor berarti bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit ditahan dan disuria. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau pembesaran prostat menyebabkan ransangan pada kandung kemih, sehingga vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh. Gejala dan tanda ini diberi skor untuk menentukan berat keluhan klinik.
Apa bila vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urine sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urine didalam kandung kemih dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut pada suatu saat akan terjadi kemacetan total, sehingga penderiat tidak mampu lagi miksi. Karena produksi urine terus terjadi maka pada suatu saat vesika tidak mampu lagi menampung irune sehingga tekanan intravesika terus meningkat. Apabila tekanan vesika menjadi lebih tingg daripada tekanan sfingter dan obsruksi, akan terjadi inkontinensia paradoks. Retensi kronik menyebabkan refluk vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi penderita harus selalu mengedan sehingga lama-kelamaan menyebabkan hernia atau hemoroid. Karena selalu terdapat sisa urine dapat berbentuk batu endapan di dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menimbulkan sistitis dan bila terjadi refluk dapat terjadi pielonefritis.
(Wim De Jong, hal 1059)
1. Anatomi fisiologi
Struktur reproduksi laki-laki terdiri dari penis, testis dalam kantong skrotum, sistem duktus yang terdiri dari epididimis, vas deferens, duktus ejakulatorius dan uretra, glandula asesoria yang terdiri dari vesikula seminalis, kelenjar prostat dan kelenjar bulbouretralis.
Testis bagian dalam terbagi atas lobus yang terdiri dari tubulus seminiferus, sel-sel sertoli dansel-sel leydig. Produksi sperma atau spermatogenesis terjadi pada tubulus seminiferus. Sel-sel leydig mensekresi testosteron. Pada bagian posterior tiap-tiap testis, terdapat duktus melingkar yang disebut epididimis. Bagian kepalanya berhubungan dengan duktus seminiferus (duktus untuk aliran keluar) dari testis, dan bagian ekornya terus melanjut kebagian vas deferens. Vas deferens adalah duktus sekretorius testis yang membentang hingga duktus vesikula seminalis, kemudian bergabung membentuk duktus ejakulatorius. Duktus ejakulatorius selanjutnya bergabung dengan uretra, yang merupakan saluran keluar bersama, baik untuk sperma maupun kemih. Kelenjar asesorius juga mempunyai hubungan dengan sistem duktus. Prostat mengelilingi leher kandung kemih dan uretra bagian atas. Saluran-saluran (kelenjar cowper) terletak dekat meatus uretra. Penis terdiri dari 3 massa jaringan erektil berbentuk silinder memanjang yang memberi bentuk pada penis. Lapisan dalamnya adalah korpus kavernosum. Ujung distal penis dikenal sebagai glans, ditutupi oleh prepusium (klup). Prepusim dapat dilepas dengan pembedahan (sirkumsisi / sunat). (Sylvia A Price, hal 1320, 2006)
2. Definisi
a. Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah penyakit yang disebabkan oleh penuaan. Tanda klinis BPH biasanya muncul pada lebih dari 50 % laki-laki yang berusia 50 tahun ke atas (Sylvia A. Priece, hal 1320, 2006).
b. Hiperplasia prostat benigna (BPH) adalah pembesaran, atau hipertrofi prostate. Kelenjar prostate membesar, memanjang ke arah depan, ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran urin ; dapat mengakibatkan hidronefrosis dan hidroureter. Penyebabnya tidak pasti, tetapi bukti-bukti menunjukkan adanya keterlibatan hormonal. BPH adalah kondisi umum terjadi pada pria di atas usia 50 tahun (Brunner dan Suddarth, hal 467, 2000).
c. Benigna Prostat Hiperplasia adalah pembesaran kelenjar prostat dengan bermacam manifestasi seperti susah buang air kecil, penurunan kemampuan pengosongan urin, terendah, buang air kecil, hanya menetes, yang ditemukan pada laki-laki dengan usia lebihdari 50 tahun (Black, Hawks, Keene hal 946, 2001).
d. Hiperplasia adalah pembentukan jaringan yang berlebihan karena bertambahnya jumlah sel (Ahmad A.K., 2003).
e. Hiperplasia prostat benigna adalah pembesaran progresif dari kelenjar prostate (secara umum pada pria lebih tua dari 50 tahun) menyebabkan berbagai derajat obstruksi uretral dan pembatasan aliran urinarius (Marilynn E. Doenges hal 671, 2000).
f. Prostat adalah kelenjar penghasil semen yang mengelilingi leher kandung kemih dan uretra pada laki-laki (Wim de Jong, hal 1059, 1997).
3. Etiologi
a. Faktor usia
b. Perubahan hormon
c. Genetik/kromosom keturunan (Wim De Jong,1997)
4. Patofisiologi
Biasanya ditemukan tanda dan gejala obstruksi dan iritasi. Gejala dan tanda obstruksi jalan kemih berarti penderita harus menunggu pada permulaan miksi, miksi terputus, menetes pada akhir miksi, pancaran miksi menjadi lemah dan rasa belum puas sehabis miksi. Gejala iritasi disebabkan hipersensivitas otot detrusor berarti bertambahnya frekuensi miksi, nokturia, miksi sulit ditahan dan disuria. Gejala obstruksi terjadi karena detrusor gagal berkontraksi dengan cukup kuat atau gagal berkontraksi cukup lama sehingga kontraksi terputus-putus. Gejala iritasi terjadi karena pengosongan yang tidak sempurna pada saat miksi atau pembesaran prostat menyebabkan ransangan pada kandung kemih, sehingga vesika sering berkontraksi meskipun belum penuh. Gejala dan tanda ini diberi skor untuk menentukan berat keluhan klinik.
Apa bila vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urine sehingga pada akhir miksi masih ditemukan sisa urine didalam kandung kemih dan timbul rasa tidak tuntas pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut pada suatu saat akan terjadi kemacetan total, sehingga penderiat tidak mampu lagi miksi. Karena produksi urine terus terjadi maka pada suatu saat vesika tidak mampu lagi menampung irune sehingga tekanan intravesika terus meningkat. Apabila tekanan vesika menjadi lebih tingg daripada tekanan sfingter dan obsruksi, akan terjadi inkontinensia paradoks. Retensi kronik menyebabkan refluk vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis dan gagal ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi penderita harus selalu mengedan sehingga lama-kelamaan menyebabkan hernia atau hemoroid. Karena selalu terdapat sisa urine dapat berbentuk batu endapan di dalam kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menimbulkan sistitis dan bila terjadi refluk dapat terjadi pielonefritis.
(Wim De Jong, hal 1059)
3. Manifestasi klinis
a. Pada pemeriksaan prostat didapati membesar, kemerahan, dan tidak nyeri tekan
b. Keletihan, anoreksia, mual dan muntah, serta rasa tidak nyaman epigastrik.
c. Akhirnya, azotemia dan gagal ginjal dapat terjadi dengan retensi urine kronis dan volume residual yang besar. (Brunner & Suddart, hal 467, 2000)
4. Pemeriksaan diagnostik
a. Pemeriksaan fisik termasuk digital rektal.
b. Pemeriksaan urinalis dan urodinamik untuk menentukan obstrksi aliran (Brunner & Suddart, hal 467, 2000).
c. USG abdominal untuk melihat hidronefrosis atau massa di ginjal dan untuk menghitung volume sisa urine setelah berkemih dan ukuran prostat.
d. Cystoscopy dilakukan untuk menyingkirkan adanya devertikula kandung kemih, batu dan tumor.
e. Pengukuran angka aliran urine dan uretrogram retrograt juga dapat dilakukan. (Sylvia A Price, hal 1319, 2006).
f. Urinalisa warna kuning, coklat gelap, merah gelap atau terang (berdarah); penampilan keruh : pH 7 atau lebih besar (menunjukkan infeksi) bakterial, SDP, SDM, mungkin ada secara mikroskopik.
g. Kultur urine : dapat menunjukkan Staphylococus aureus.
h. Sitologi urine : untuk mengesampingkan kanker kandung kemih.
i. BUN / kreatinin meningkat bila fungsi ginjal dipengaruhi.
j. SDP mungkin > 11.000.
k. Sistouretroskopi : untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan perubahan dinding kandung kemih.
l. Sistometri : mengevaluasi fungsi otot detrusor dan tonusnya.
m. Ultrasound transrektal : mengukur ukuran prostat, jumlah residu urine : melokalisasi lesi yang tidak berhubungan dengan BPH (M. Doenges, hal 671, 2000).
5. Penatalaksanaan
Rencana pengobatan tergantung pada penyebab, keparahan obstruksi dan kondisi pasien.
a. Keteterisasi segera diperlukan jika pasien tidak mampu untuk berkemih, terkadang juga diperlukan sistostomi suprapubik.
b. Manipulasi hormonal dengan anti androgen (finasterid / proscar) untuk menurunkan ukuran prostat dan meningkatkan aliran urine.
c. Pembedahan (prostatektomi) untuk mengangkat porsi yang mengalami hipertrofi dari kelenjar prostat.
1) Reaksi prostat transuretral : prosedur endoskopik uretral merupakan pendekatan yang paling umum
2) Prostatektomi suprapubik : insisi abdominal
3) Prostatektomi parineal : insisi parineal dan inkontinen, impoten atau cedera rektal mungkin merupakan komplikasinya.
d. Prostatektomi retropubik : insisi abdominal rendah (Brunner & Suddart, hal 467, 2000).
6. Komplikasi
a. Kontinensia paradoks
b. Refluk vesiko ureter
c. Hidroureter
d. Hidronefrosis
e. Gagal ginjal
f. Hemoroid / hernia
g. Hematuria
h. Pielonefritis. (Wim De Jong, hal 1059, 1997)
A. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai pendekatan problem solving (pemecahan masalah) yang memerlukan ilmu, tehnik dan keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga dengan memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan lima tahap proses keperawatan yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi,implementasi dan evaluasi (Nursalam, 2001)
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan da merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber dan untuk mengevaluasi serta mengidentifikasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
a. Sirkulasi
Tanda : Peningkatan TD (efek pembesaran ginjal)
b. Eliminasi
Gejala :
1) Penurunan kekuatan / dorongan aliran urine : tetesan
2) Keragu-raguan pada berkemih awal
3) Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap : dorongan dan frekuensi berkemih
4) Nokturi, disuria, hematuria
5) Duduk untuk berkemih
6) ISK berulang, riwayat batu (statis urinaria)
7) Konstipasi (protrusi prostat kedalam rektum)
Tanda :
1) Massa padat dibawah abdomen bawah (distensi kandung kemih) nyeri tekan kandung kemih.
2) Hernia inguinalis, hemoroid (menakibatkan peningkatan tekanan abdominal yang memerlukanpengosongan kandung kemih mengatasi tahanan)
c. Makanan dan cairan
Gejala :
1) Anoreksia : mual / muntah
2) Penurunan berat badan
d. Seksualitas
Gejala :
1) Masalah tentang efek kondisi / terapi pada kemampuan seksual
2) Penurunan kekuatan ejakulasi
Tanda :
1) Pembesaran, nyeri tekan prostat
e. Nyeri / kenyamanan
Gejala :
2) Nyeri suprapubis, panggul atau punggung : tajam, kuat (pada prostatitis akut)
3) Nyeri punggung bawah. (Marilyn E. Doenges 2000, hal 671)
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dari individu atau kelompok diman perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan informasi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah. (Nursalam dikutip dari carpenito, hal 35, 2000)
a. Hirarki Maslow
Maslow menjelaskan kebutuhan manusia dibagi menjadi lima tahap : fisiologis, rasa aman dan nyaman, sosial, harga diri dan aktualisasi diri. Maslow mengatakan pasien memerlukan suatu tahapan kebutuhan, jika pasien menghendaki suatu tindakan yang memuaskan. Dengan kata lain kebutuhan fisiologis biasanya sebagai prioritas utama bagi pasien dari pada kebutuhan lain. (Nursalam, hal 52, 2001).
Dimana Maslow menggambarkan dengan skema piramida yang menunjukkan bagaimana seseorang bergerak dari kebutuhan dasar dari tingkat kebutuhan yang lebih tinggi dengan tujuan akhir adalah fungsi dan kesehatan amnusia yang terintegrasi.
Aktualisasi
Diri
Harga diri
Mencintai dan dicintai
Kebutuhan keselamatan dan keamanan
Kebutuhan fisiologis
(O2, CO2, elektrolit, makanan dan sex)
Hirarki Abraham Maslow
Keterangan :
1) kebutuhan fisiologis O2, CO2, elektrolit, makanan dan sex
2) Kebutuhan keselamatan dan keamanan, terhindar dari penyakit dan perlindungan hukum
3) Mencintai dan dicintai : kasih sayang, mencintai, dicintai, diterima dikelompok.
4) Harga diri : dihargai dan menghargai (respek dan toleransi)
5) Aktualisasi diri : ingin diakui, berhasil dan menonjol
b. Hirarki “Kalish”
Kalish menjelaskan kebutuhan Maslow dengan membagi kebutuhan fisiologis menjadi kebutuhan untuk bertahan dan stimulasi. Kalish mengidentifikasi kebutuhan untuk mempertahankan hidup : udara, air, temperatur, eliminasi, istirahat dan menghindari nyeri, jika terdapat kekurangan kebutuhan tersebut, pasien cenderung menggunakan prasarana untuk memuakan kebutuhan tertentu, hanya saja mereka akan mempertimbangkan terlebih dahulu kebutuhan yang paling tinggi prioritasnya, misalnya keamanan dan harga diri. (Nursalam, hal 53, 2001).
Sesuai dengan dari sumber referensi yang diperoleh, pada pasien BPH terdapat diagnosa sebagai berikut :
a. Retensi urine (akut / kronik) berhubungan dengan ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat.
b. Nyeri (akut) berhubungan dengan retensi kandung kemih.
c. Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan disfungsi ginjal
d. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi. (Marilynn E. Doenges 2000, hal 671)
3. Perencanaan
Dalam menentukan perencanaan perlu menyusun suatu sistem untuk menentukan diagnosa yang akan diambil untuk tindakan pertama kali. Salah satu sistem yang dapat digunakan dalah hirarki kebutuhan manusia “ Iyer et al, 1996 “ (Nursalam, hal 52, 2001). Perencanaan meliputi pengembangan strategi untuk mencegah, mengurangi dan mengoreksi masalah-masalah yang akan diidentifikasi pada diagnosa kutipan dari Fiyer, Laptik dan Bernocchi, 1996 (Nursalam, hal 51, 2001).
a. Pada pemeriksaan prostat didapati membesar, kemerahan, dan tidak nyeri tekan
b. Keletihan, anoreksia, mual dan muntah, serta rasa tidak nyaman epigastrik.
c. Akhirnya, azotemia dan gagal ginjal dapat terjadi dengan retensi urine kronis dan volume residual yang besar. (Brunner & Suddart, hal 467, 2000)
4. Pemeriksaan diagnostik
a. Pemeriksaan fisik termasuk digital rektal.
b. Pemeriksaan urinalis dan urodinamik untuk menentukan obstrksi aliran (Brunner & Suddart, hal 467, 2000).
c. USG abdominal untuk melihat hidronefrosis atau massa di ginjal dan untuk menghitung volume sisa urine setelah berkemih dan ukuran prostat.
d. Cystoscopy dilakukan untuk menyingkirkan adanya devertikula kandung kemih, batu dan tumor.
e. Pengukuran angka aliran urine dan uretrogram retrograt juga dapat dilakukan. (Sylvia A Price, hal 1319, 2006).
f. Urinalisa warna kuning, coklat gelap, merah gelap atau terang (berdarah); penampilan keruh : pH 7 atau lebih besar (menunjukkan infeksi) bakterial, SDP, SDM, mungkin ada secara mikroskopik.
g. Kultur urine : dapat menunjukkan Staphylococus aureus.
h. Sitologi urine : untuk mengesampingkan kanker kandung kemih.
i. BUN / kreatinin meningkat bila fungsi ginjal dipengaruhi.
j. SDP mungkin > 11.000.
k. Sistouretroskopi : untuk menggambarkan derajat pembesaran prostat dan perubahan dinding kandung kemih.
l. Sistometri : mengevaluasi fungsi otot detrusor dan tonusnya.
m. Ultrasound transrektal : mengukur ukuran prostat, jumlah residu urine : melokalisasi lesi yang tidak berhubungan dengan BPH (M. Doenges, hal 671, 2000).
5. Penatalaksanaan
Rencana pengobatan tergantung pada penyebab, keparahan obstruksi dan kondisi pasien.
a. Keteterisasi segera diperlukan jika pasien tidak mampu untuk berkemih, terkadang juga diperlukan sistostomi suprapubik.
b. Manipulasi hormonal dengan anti androgen (finasterid / proscar) untuk menurunkan ukuran prostat dan meningkatkan aliran urine.
c. Pembedahan (prostatektomi) untuk mengangkat porsi yang mengalami hipertrofi dari kelenjar prostat.
1) Reaksi prostat transuretral : prosedur endoskopik uretral merupakan pendekatan yang paling umum
2) Prostatektomi suprapubik : insisi abdominal
3) Prostatektomi parineal : insisi parineal dan inkontinen, impoten atau cedera rektal mungkin merupakan komplikasinya.
d. Prostatektomi retropubik : insisi abdominal rendah (Brunner & Suddart, hal 467, 2000).
6. Komplikasi
a. Kontinensia paradoks
b. Refluk vesiko ureter
c. Hidroureter
d. Hidronefrosis
e. Gagal ginjal
f. Hemoroid / hernia
g. Hematuria
h. Pielonefritis. (Wim De Jong, hal 1059, 1997)
A. KONSEP DASAR KEPERAWATAN
Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik keperawatan. Hal ini bisa disebut sebagai pendekatan problem solving (pemecahan masalah) yang memerlukan ilmu, tehnik dan keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pasien dan keluarga dengan memberikan asuhan keperawatan sesuai dengan lima tahap proses keperawatan yaitu : pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi,implementasi dan evaluasi (Nursalam, 2001)
1. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan da merupakan suatu proses yang sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber dan untuk mengevaluasi serta mengidentifikasi status kesehatan pasien (Nursalam, 2001).
a. Sirkulasi
Tanda : Peningkatan TD (efek pembesaran ginjal)
b. Eliminasi
Gejala :
1) Penurunan kekuatan / dorongan aliran urine : tetesan
2) Keragu-raguan pada berkemih awal
3) Ketidakmampuan untuk mengosongkan kandung kemih dengan lengkap : dorongan dan frekuensi berkemih
4) Nokturi, disuria, hematuria
5) Duduk untuk berkemih
6) ISK berulang, riwayat batu (statis urinaria)
7) Konstipasi (protrusi prostat kedalam rektum)
Tanda :
1) Massa padat dibawah abdomen bawah (distensi kandung kemih) nyeri tekan kandung kemih.
2) Hernia inguinalis, hemoroid (menakibatkan peningkatan tekanan abdominal yang memerlukanpengosongan kandung kemih mengatasi tahanan)
c. Makanan dan cairan
Gejala :
1) Anoreksia : mual / muntah
2) Penurunan berat badan
d. Seksualitas
Gejala :
1) Masalah tentang efek kondisi / terapi pada kemampuan seksual
2) Penurunan kekuatan ejakulasi
Tanda :
1) Pembesaran, nyeri tekan prostat
e. Nyeri / kenyamanan
Gejala :
2) Nyeri suprapubis, panggul atau punggung : tajam, kuat (pada prostatitis akut)
3) Nyeri punggung bawah. (Marilyn E. Doenges 2000, hal 671)
2. Diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia dari individu atau kelompok diman perawat secara akuntabilitas dapat mengidentifikasi dan memberikan informasi secara pasti untuk menjaga status kesehatan, menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah. (Nursalam dikutip dari carpenito, hal 35, 2000)
a. Hirarki Maslow
Maslow menjelaskan kebutuhan manusia dibagi menjadi lima tahap : fisiologis, rasa aman dan nyaman, sosial, harga diri dan aktualisasi diri. Maslow mengatakan pasien memerlukan suatu tahapan kebutuhan, jika pasien menghendaki suatu tindakan yang memuaskan. Dengan kata lain kebutuhan fisiologis biasanya sebagai prioritas utama bagi pasien dari pada kebutuhan lain. (Nursalam, hal 52, 2001).
Dimana Maslow menggambarkan dengan skema piramida yang menunjukkan bagaimana seseorang bergerak dari kebutuhan dasar dari tingkat kebutuhan yang lebih tinggi dengan tujuan akhir adalah fungsi dan kesehatan amnusia yang terintegrasi.
Aktualisasi
Diri
Harga diri
Mencintai dan dicintai
Kebutuhan keselamatan dan keamanan
Kebutuhan fisiologis
(O2, CO2, elektrolit, makanan dan sex)
Hirarki Abraham Maslow
Keterangan :
1) kebutuhan fisiologis O2, CO2, elektrolit, makanan dan sex
2) Kebutuhan keselamatan dan keamanan, terhindar dari penyakit dan perlindungan hukum
3) Mencintai dan dicintai : kasih sayang, mencintai, dicintai, diterima dikelompok.
4) Harga diri : dihargai dan menghargai (respek dan toleransi)
5) Aktualisasi diri : ingin diakui, berhasil dan menonjol
b. Hirarki “Kalish”
Kalish menjelaskan kebutuhan Maslow dengan membagi kebutuhan fisiologis menjadi kebutuhan untuk bertahan dan stimulasi. Kalish mengidentifikasi kebutuhan untuk mempertahankan hidup : udara, air, temperatur, eliminasi, istirahat dan menghindari nyeri, jika terdapat kekurangan kebutuhan tersebut, pasien cenderung menggunakan prasarana untuk memuakan kebutuhan tertentu, hanya saja mereka akan mempertimbangkan terlebih dahulu kebutuhan yang paling tinggi prioritasnya, misalnya keamanan dan harga diri. (Nursalam, hal 53, 2001).
Sesuai dengan dari sumber referensi yang diperoleh, pada pasien BPH terdapat diagnosa sebagai berikut :
a. Retensi urine (akut / kronik) berhubungan dengan ketidakmampuan kandung kemih untuk berkontraksi dengan adekuat.
b. Nyeri (akut) berhubungan dengan retensi kandung kemih.
c. Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan disfungsi ginjal
d. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan
e. Kurang pengetahuan berhubungan dengan tidak mengenal sumber informasi. (Marilynn E. Doenges 2000, hal 671)
3. Perencanaan
Dalam menentukan perencanaan perlu menyusun suatu sistem untuk menentukan diagnosa yang akan diambil untuk tindakan pertama kali. Salah satu sistem yang dapat digunakan dalah hirarki kebutuhan manusia “ Iyer et al, 1996 “ (Nursalam, hal 52, 2001). Perencanaan meliputi pengembangan strategi untuk mencegah, mengurangi dan mengoreksi masalah-masalah yang akan diidentifikasi pada diagnosa kutipan dari Fiyer, Laptik dan Bernocchi, 1996 (Nursalam, hal 51, 2001).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar